Jawaban Soal Indikator Yajna dalam Mahabrata
YAJNA DALAM MAHABHARATA
(Pengertian
dan Hakekat Yajna)
S O A L
1. Apakah
yang dimaksud dengan Yajna dan jelaskan salah satu contoh Yajna yang sudah Anda
lakukan dalam kehidupan sehari-hari!
2. Sebutkan
bagian-bagian dari Panca Yadnya dan berikan masing-masing satu contohnya!
3. Coba
jelaskan apa yang dimaksud dengan Upakara dan Upacara dalam Yadnya? Sebelumnya
diskusikanlah dengan orang tua kamu dirumah.
4. Bhuta
Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada para bhuta. Upacara
bhuta yadnya dibedakan menjadi 3 tingkatan yaitu tingkatan paling kecil
(kanista), tingkatan menengah (madya), dan paling besar (uttama). Jelaskan
ketiga tingkatan tersebut!
5. Manusa
Yadnya merupakan persembahan suci yang tulus ikhlas kepada sesama manusia.
Dalam hal ini, terdapat rangkaian upacara Manusa Yadnya dari bayi masih dalam
kandungan hingga menikah. Sebutkan rangkaian upacara tersebut secara urut!
J A W A B A N
1. Yajna
adalah persembahan suci yang tulus ikhlas untuk menjaga keseimbangan alam dan
keteraturan sosial. Salah satu contoh yajna yang sudah dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari adalah dengan melakukan puja Tri Sandhya.
2. Bagian-bagian
Panca Yadnya :
· Dewa
Yadnya
Dewa
yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan
segala manifestasinya. Contohnya dengan melakukan Tri Sandya.
· Rsi
Yadnya
Rsi
yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan pada para Rsi. Contohnya dengan
menghormati para Rsi
· Pitra
Yadnya
Pitra
yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan kepada para Pitara / leluhur.
Contohnya adalah upacara ngaben.
· Manusa
Yadnya
Manusa
yadnya adalah pengorbana untuk manusia, terutama bagi mereka yang memerlukan
bantuan. Contohnya upacara Mepandes (potong gigi).
· Bhuta
Yadnya
Bhuta
yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan untuk para bhuta. Contohnya dengan
melakukan upacara mecaru.
3. Upakara
adalah sarana yang diperlukan sebagai perlengkapan sebuah Yajna. Sedangkan
upacara adalah tatacara atau rangkaian pelaksanaan suatu Yajna.
4. Tingkatan
dalam Upacara Bhuta Yadnya:
a. Tingkatan
paling kecil (kanista)
Upacara
yang termasuk ke dalam tingkatan ini adalah segehan. Segehan artinya “suguh”
(menyuguhkan), dalam hal ini segehan di haturkan kepada para Bhutakala agar
tidak mengganggu.
b. Tingkatan
menengah (madya)
Upacara yang
termasuk ke dalam tingkatan ini adalah caru. Dalam kitab Samhita Swara
disebutkan, arti kata caru adalah cantik atau harmonis. Upacara Butha Yadnya
itu disebut caru karena disebabkan salah satu tujuan Butha Yadnya adalah untuk
mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam lingkunganya.
c. Tingkatan
paling besar (uttama)
Upacara
yang termasuk ke dalam tingkatan ini adalah tawur. Seperti Tawur, Tawur Panca
Wali Krama, dan Tawur Eka Dasa Rudra.
5. Urutan
upacara manusa yadnya:
· Upacara
bayi dalam kandungan (megedong-gedongan)
· Upacara
bayi lahir ke dunia
· Upacara
kepus puser
· Upacara
bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan)
· Upacara
bayi berumur 105 hari (nyambutin/telu bulan)
· Upacara
otonan
· Upacara
tumbuh gigi
· Upacara
meketus
· Upacara
munggah daha/raja sewala
· Upacara
potong gigi (mepandes)
· Upacara
pawiwahan
YAJNA DALAM MAHABHARATA
(Yajna dalam
Mahabharata dan Masa Kini)
S O A L
1. Makna
apa yang dapat dipetik dari pelaksanaan Yajna dalam cerita Mahabrata?
2. Coba
ceritakan kembali sekilas tentang pelaksanaan Yajna dalam cerita Mahabrata!
3. Rangkumlah
cerita tersebut di atas dan berikanlah komentar-mu bagaimana mempersembahkan
yajna agar berhasil! Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua Anda di rumah.
4. Contoh
pelaksanaan yajna pada masa mahabharata dan pelaksanaan yajna masa kini di Bali
memiliki persamaan maupun perbedaan. Berikan contoh pelaksanaan yajna dalam
mahabharata yang memiliki persamaan dengan pelaksanaan masa kini!
5. Kitab
Mahabharata memgandung nilai-nilai dalam teks Astadasaparwa. Salah satunya
adalah nilai yadnya (korban suci dan keikhlasan). Berikanlah contoh yadnya pada
masa Mahabharata dalam artian tapa/yoga!
J A W A B A N
1. Pelaksanaan
Yajna dalam Mahabharata memiliki makna bahwa melaksanakan Yajna harus tulus
ikhlas, tidak boleh mencela dan tidak boleh ragu-ragu.
2. Pelaksanaan
Yajna dalam cerita Mahabharata salah satunya adalah Sarpayajna. Dimana dalam
cerita ini mengisahkan Dewi Drupadi yang menerima karmaphala akibat sikapnya
yang mencela seorang Brahmana Utama. Cerita ini memberikan pesan kepada kita
bahwa jika melaksanakan Yajna harus dengan tulus ikhlas, tidak boleh mencela,
dan tidak boleh ragu-ragu.
3. Rangkuman
cerita:
Pada zaman Mahabharata dikisahkan Panca
Pandawa melaksanakan Yajna Sarpa yang sangat besar dan dihadiri oleh seluruh
rakyat dan undangan dari raja negeri tetangga. Upacara ini dipimpin oleh
Brahmana Utama. Beliau telah melalui perjalanan yang sangat jauh, sehingga
beliau sangat lapar dan pakaiannya mulai terlihat kotor. Beliau melahap
hidangan yang disajikan dengan cepat bagaikan orang yang tidak pernah menemukan
makanan. Bersamaan dengan itu, melintaslah Dewi Drupadi yang menyelengarakan
yajna ini. Ia berkomentar mencela atas cara makan Sang Brahmana. Karena
kesaktian dari Brahmana ini, ucapan dari Drupadi didengarnya dengan jelas dan
merasa kecewa akan hal tersebut.
Dalam kisah berikutnya, Dewi Drupadi
mendapat penghinaan dari saudara iparnya. Dirobeknya pakaian Drupadi didepan
umum oleh Dursasana atas perintah Pangeran Duryadana. Terjadinya penghinaan
terhadap Drupadi adalah pahala dari perbuatannya yang mencela Brahmana Utama
ketika menikmati hidangan. Dewi Drupadi tidak dapat ditelanjangi karena dibantu
oleh Krisna dengan memberikan kain secara ajaib yang tidak bisa habis hingga
Dursasana jatuh pingsan. Krisna membantu karena Drupadi pernah berkarma baik
dengan cara membalut jarinya yang terkena Panah Cakra.
4. Contoh
pelaksanaan yajna pada masa mahabharata yang memiliki kesamaan dengan masa
kini, yaitu:
·
Upacara pemakaman
(ngaben)
Upacara
ngaben yang dilakukan memiliki kesamaan yaitu sama sama dilakukan pembakaran
terhadap jenazah atau mayat.
·
Upacara pernikahan
Upacara
pernikahan memiliki kesamaan yaitu sama sama melakukan pertemuan keluarga
antara pengantin pria dengan wanita.
5. Contoh
pelaksanaan yajna pada masa Mahabharata dalam artian tapa/yoga dapat dilihat
ketika Panca Pandawa mengasingkan diri selama 12 tahun di hutan. Dimana atas
saran Kresna, mereka menyebar untuk melakukan pertapaan.
YAJNA DALAM MAHABHARATA
(Syarat-syarat
dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajna)
S O A L
1. Sebutkan
dan jelaskan syarat-syarat yang wajib dipedomani dalam melaksanakan Yajna!
Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua Anda di rumah.
2. Sebutkan
tiga kualitas Yajna yang Anda ketahui!
3. Diantara
kualitas yajna yang ada yang manakah sudah dilaksanakan oleh masyarakat
lingkungan sekitar Anda? Jelaskanlah!
4. Amatilah
lingkungan sekitar Anda, kualitas yajna yang manakah yang paling sering
dilaksanakan? Diskusikanlah dengan orang tua Anda, kemudian buatlah laporannya
masing-masing!
5. Tamasika
Yajna merupakan yajna yang tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya,
tanpa mantra, tanpa kidung suci, tanpa daksina, tanpa didasari kepercayaan.
Lalu apa yang akan terjadi apabila seseorang melaksanakan Tamasika Yajna?
J A W A B A N
1. Syarat-syarat
yang wajib dipedomani :
· Yajna
berdasarkan Sastra, yaitu dalam melaksanakan yajna harus berdasarkan Veda.
Apabila tidak ada pedoman dalam sastra apa yang harus kita jadikan
pelajaran-pelajaran utama untuk melaksanakan yajna.
· Yajna
berdasarkan Sraddha, yaitu dalam melaksanakan yajna harus dengan keyakinan.
Apabila kita ragu-ragu dalam melaksanakan yajna maka itu akan tidak ada
manfaatnya.
· Yajna
berdasarkan Lascarya, yaitu dalam melaksanakan yajna harus dilakukan dengan
tulus ikhlas. Tulus ikhlas adalah dasar utama dalam melakukan yajna, apabila
tidak melakukan dengan tulus ikhlas maka itu akan sia-sia saja atau tidak
berguna karena ketika kamu melakukan yajna tersebut dengan kepamrihan maka
Tuhan tidak akan memberi lebih untuk kamu.
· Yajna
berdasarkan Daksina, yaitu dalam melaksanakan yajna setidaknya kita memberikan
dana kepada pandita.
· Yajna
berdasarkan Mantra, yaitu yajna yang harus dilaksanakan dengan adanya mantra,
puja, gita, dan wajibnya ada pandita atau pinandita.
· Yajna
berdasarkan Nasmuta, yaitu yajna yang dilaksanakan dengan tidak untuk pamer.
Apabila melakukan yajna jangan sampai memiliki tujuan untuk menunjukkan
kesuksesan dan kekayaan.
· Yajna
berdasarkan Anna Sevanam, yaitu yajna yang dilaksanakan dengan memberikan
pelayanan kepada masyarakat dengan cara mengundang untuk makan bersama.
2. Tiga
kualitas yajna :
· Satwika
Yajna, yaitu yajna yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan.
· Rajasika
Yajna, yajna yang dilaksanakan untuk memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya.
· Tamasika
Yajna, yajna yang dilaksanakan dengan motivasi agar mendapatkan untung.
3. Kualitas
Yajna yang sudah dilaksanakan lingkungan masyarakat saya adalah Satwika Yajna. Contohnya
adalah piodalan di Pura Kahyangan Tiga. Yajna yang dilakukan sudah memenuhi
syarat-syarat yang telah ditentukan seperti sastra, keikhlasan, menghadirkan
sulinggih, daksina, serta menghadirkan suara genta, gong, atau dharmagita.
Namun tetap saja ada masyarakat yang masih melakukan Rajasika Yajna dimana
mereka memamerkan isi sesajen (banten) saat pergi ke pura dan mengaharapkan sesuaatu
dari hal tersebut.
4. Kualitas
Yajna yang sering dilaksanakan di lingkungan saya adalah Satwika Yajna. Sebagai
contoh adalah piodalan di pura, maupun odalan di merajan masing-masing. Selain
itu, contoh yangnsetiap hari dilakukan adalah yadnya sesa dan menghaturkan
canang yang termasuk ke dalam satwika yajna.
5. Apabila
seseorang melaksanakan Tamasika Yajna, nilai kualitas dari Yajna tersebut
menjadi sangat rendah. Yajna yang dilaksanakan tidak berarti apa-apa dihadapan
Tuhan. Terlebih lagi yadnya yang dilakukan ini tanpa didasari atas kepercayaan.
Sehingga saat melakukan yajna dengan kualitas Tamasika, kita tidak akan
mendapatkan berkat bagi si penyelenggara.
YAJNA DALAM MAHABHARATA
(Mempraktikan
Yajna Menurut Kitab Mahabharata dalam Kehidupan)
S O A L
1. Bagaimanakah
praktik pelaksanaan Yajna menurut kitab Mahabrata bila dikaitkan dengan
kehidupan beragama Hindu di tanah air kita? Jelaskanlah!
2. Apakah
yang ketahui tentang “Daksina” terkait dengan kehidupan beragama Hindu di
lingkungan sekitar kamu? Jelaskanlah!
3. Buatlah
rangkuman untuk masing-masing pokok bahasan berdasarkan sumber teks yang
terdapat pada Bab II ( Yajna dalam Mahabrata )
4. Amatilah
gambar berikut ini, buatlah deskripsinya!
5. Mengapa
kesuksesan dari suatu upacara yang dilaksanakan ditentukan oleh sikap sang
penyelenggara yadnya atau yang bisa disebut sang yajamana?
J A W A B A N
1. Praktik
yajna dalam Mahabharata banyak yang masih memiliki kesamaan dalam kehidupan
beragama Hindu sekarang. Walaupun telah banyak mengalami perubahan. Sebagai
contoh adalah pelaksanaan upacara ngaben. Dalam upacara ini, pelaksanaannya
sama sama dilakukan pembakaran jenazah/mayat. Walaupun memiliki perbedaan yaitu
dahulu upacara ini dilakukan lebih sederhana dengan jenazah yang hanya
dibungkus kain kasa kemudian dibakar di dalam tumpukan kayu.
2. Daksina
terkait dengan kehidupan beragama Hindu di lingkungan sekitar saya adalah
berupa salah satu jejahitan yang berbentuk serobong yang terbuat dari daun
kelapa yang sudah tua, dan isinya berupa beras, uang, kelapa, telur itik, dan
perlengkapan lainnya. Dan daksina ini merupakan sesajen yang dibuat untuk
tujuan kesaksian spiritual atau sebagai saksi dewata. Namun, makna sebenarnya
secara umum adalah suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau
uang kepada pendeta/pemimpin upacara yang harus dihaturkan dengan tulus ikhlas.
3. Sudah
saya mengerjakan pada indikator A, B, C, dan D
4.
Dari gambar diatas, terlihat
2 orang Sulinggih atau Pedanda yang sedang memimpin upacara Dewa Yajna. Dalam
gambar tersebut menjelaskan bahwa masyarakat sedang mempraktikan pelaksanaan
Yajna dengan kualitas Satwika karena Yajna yang dilakukan telah menghadirkan
sulinggih yang disesuaikan dengan besar kecilnya yajna. Kalau yajnanya besar,
sebaiknya hadirkan seorang sulinggih dwijati atau pandita. Tetapi kalau
yajnanya kecil, cukup dipuput oleh seorang pemangku atau pinandita saja.
5. Karena
sang penyelenggara atau sang yajamana merupakan salah satu manggala atau
pemimpin dari upacara tersebut. Jika sang yajamana memiliki sikap yang buruk
saat memimpin suatu upacara, maka upacara yang dilaksanakan akan menjadi
berantakan dan tidak berjalan sesuai rencana.
Komentar
Posting Komentar