Babad Arya Jelantik Beserta Analisis Berdasarkan Sifat-Sifatnya
BABAD ARYA JELANTIK
Diceritakan setelah Pulau
Bali berhasil ditaklukkan kerajaan Majapahit pada tahun 1343 maka kemudian
Mahapatih Gajah Mada mengangkat Adipati berasal dari Jawa yang diberi gelar
Dalem Ketut Kresna Kapakisan sebagai Raja Bali. Istana beliau berada di
Samprangan, wilayah Gianyar sekarang, sebagai pusat pemerintahannya. Untuk
menjaga kestabilan dan keamanan pemerintahan, pada tahun 1352 Patih Gajah Mada
mengangkat Sri Nararya Kapakisan berasal dari Jawa Timur sebagai Perdana
Menteri sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
Alkisah,
Sri
Nararya Kapakisan / I Gusti Nyuh Aya
memiliki beberapa keturunan salah satunya Ki Cacaran. Ki Cacaran memilki putra
I Gusti Paninngungan yang sekarang menjadi wangsa Paninggungan. I Gusti
Paninggungan berputra I Gusti Simpangan yang kemudian memiliki keturunan
bernama I Gusti Ngurah Jelantik yang sekarang menurunkan Arya Jelantik.
Tersebutlah pada suatu hari, Dalem Waturenggong memanggil I Gusti Ngurah
Jelantik untuk kembali ke Gelgel dengan diberi jabatan Panglima Perang. Tatkala
Dalem Waturenggong wafat, beliau digantikan putranya yaitu Dalem Bekung yang
didampingi Panglima Perang I Gusti Ngurah Jelantik (III) yang gugur saat
pemberontakan di Blambangan dan Pasuruhan dan meninggalkan istri beserta
anaknya yang diberi nama Jelantik Bogol atau I Gusti Ngurah Jelantik (IV). Kemudian
Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Segening dan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol
(IV) digantikan oleh I Gusti Ngurah Jelantik (V). Lalu pada waktunya, I Gusti
Ngurah Jelantik (V) digantikan oleh I Gusti Ngurah Jelantik (VI).
I Gusti Ngurah Jelantik melakukan
hubungan cinta kasih dengan salah satu pelayan istana bernama Ni Pasek Gobleg,
pelayan dari desa Panji wilayah Den Bukit itu. Dari hubungan itu, tidak
berselang lama Ni Pasek Gobleg mengandung melahirkan seorang bayi laki-laki
yang diberi nama I Gusti Gde Pasekan. Nama itu diambil dari pihak sang ibu yang
berasal dari trah Pasek. Beberapa waktu kemudian, sang pramiswari, I Gusti Ayu
Brang-Singa juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama I Gusti
Gde Ngurah. I Gusti Gde Pasekan lebih tua dari I Gusti Gde Ngurah. Disebutkan,
bahwa dari ubun-ubun I Gusti Gde Pasekan muncul berkas sinar, tambahan lagi
lidahnya berbulu. Melihat keistimewaan I Gusti Gde Pasekan, muncul perasaan was-was
I Gusti Ayu Brang-Singa, bilamana di kemudian hari nanti, I Gusti Gde Pasekan
akan lebih disayang oleh I Gusti Ngurah Jelantik.
Sampailah diceritakan,
seseorang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji, saudara mindon Ni Pasek
Gobleg menjenguk Ni Pasek Gobleg. Lalu diperintahkannya I Wayahan Pasek untuk
membawa I Gusti Gde Pasekan ke Ler Gunung. Sebelum perjalanan dimulai, beliau
dibekali sebuah pusaka oleh sang ayah, I Gusti Ngurah Jelantik, berbentuk
sebilah keris. Disamping itu,
diberikan juga pusaka leluhur berupa tombak tulup bernama Ki Pangkajatattwa
atau Ki Tunjungtutur. Beliau sempat mengalahkan Ki Pungakan Gendis,
seorang penguasa di wilayah Den Bukit dengan bantuan keris yang dibekali ayahnya dengan mendengarkan sabda yang
keluar dari kerisnya. I Gusti Gde Pasekan sangat dekat di hati
masyarakat desa Panji. Kemudian beliau diangkat menjadi pemimpin dengan gelar I
Gusti Anglurah Panji. Di kemudian hari, beliau menikah dengan I Dewa Ayu Juruh
yang tak lain adalah putri dari Ki Pungakan Gendis.
Sewaktu I Gusti Panji sedang memantapkan kedudukan di
Den Bukit, terjadi kemelut dalam pemerintahan di istana Gelgel. Ini terjadi
setelah Dalem Sagening wafat yang kemudian digantikan oleh Dalem Pemayun yang
masih muda. Sedangkan, I Gusti Ngurah Jelantik (ayah I Gusti Panji) di puri
Jelantik, wafat karena umur lanjut. Beliau digantikan oleh putranya yang
bernama I Gusti Gde Ngurah.yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik, sama dengan
gelar ayahnya. Karena masih muda beliau dibina oleh I Gusti Gde Pring, pamannya. Pada waktu itu
yang menjadi Patih Dalem Gelgel adalah I Gusti Agung Maruti yang sangat
ambisius, ingin mengambil kekuasaan kerajaan Gelgel. Gusti Agung Maruti
berkali-kali mengerahkan pasukan bersenjata mau membunuh I Gusti Ngurah
Jelantik atas nama Dalem, tetapi tidak berhasil.
Untuk menghindari kejadian yang
makin meruncing I Gusti Ngurah Jelantik beserta pamannya I Gusti Gde Pring
memutuskan untuk menyelamatkan diri, bersama seluruh keluarganya dengan cara
mengungsi ke daerah Barat.
Setelah I Gusti Ngurah Jelantik melepas tugas sebagai panglima perang kerajaan,
malahan pergi mengungsi keluar Gelgel menyebabkan kemelut di Istana Gelgel kian
menjadi-jadi. Warga Arya juga terpecah karenanya sehingga terjadi konflik di
sana-sini. Banyak diantara pecahan berbagai warga mengungsi ke Den Bukit minta
perlindungan I Gusti Ngurah Panji.
I Gusti Agung Maruti mengangkat
dirinya sebagai Dalem Gelgel dengan gelar Dalem Maruti Di Made (tahun 1655).
Pemerintahan kerajaan Bali selama kekuasaan I Gusti Agung Maruti dijalankan
dengan cara semena-mena. Lama-lama kondisi seperti itu menyebabkan banyak
wilayah Bali ingin melepaskan diri. Lalu atas perintah I Gusti Ngurah Panji,
diseranglah Kerajaan Gelgel dan dari peristiwa itu, I Gusti Agung Maruti dapat
dikalahkan.
Keberadaan kota Gelgel
berangsur pulih setelah I Gusti Agung Maruti dapat dikalahkan. Namun kondisi
Puri Gelgel dengan pemerintahannya haruslah ditata kembali. Dewa Agung Jambe
memanggil semua keluarga dan kerabat keturunan para Arya yang dulu pernah setia
untuk kembali bergabung seperti dulu lagi. Tidak diceritakan berapa lama
kemudian I Gusti Ngurah Jelantik sudah berada kembali di kediaman dahulu yaitu
di puri Jelantik di Gelgel. I Gusti Ngurah Jelantik mendapatkan posisi dirinya
dalam keadaan yang dirasa sangat sulit, karena demikian I Gusti Ngurah Jelantik
melayangkan selembar surat ke Den Bukit minta bantuan kakak beliau, tak lain
adalah I Gusti Ngurah Panji. Setelah selesai daya upayanya, akhirnya atas
perintah I Gusti Anglurah Panji, mereka serempak pergi dari daerah Gelgel,
mencari tempat menuju ke desa Tojan daerah Blahbatuh. I Gusti Ngurah Panji
selanjutnya memandu di perjalanan, lalu beristirahat di daerah utara desa Beng
Gianyar. Terdapat tanaman penduduk
disana berupa kacang tanah yang dimakan oleh gajah tunggangan I Gusti Ngurah
Jelantik, kemudian daerah tersebut dinamakan Kacang Bedol. Selanjutnya I
Gusti Ngurah Panji membangun puri lengkap dengan pura. Gajah tunggangan beliau,
digembalakan di daerah bagian barat laut daerah Tojan, itulah sebabnya bernama
daerah Angon Liman, Bangun Liman nama lainnya sampai sekarang, dan di bagian
timurnya ada semak belukar, tempat beliau I Gusti Anglurah Panji berburu,
dinamakan desa Buruwan sampai sekarang. I Gusti Ngurah Jelantik membentuk
laskar Truna Tojan dengan 200 orang yang berada di Blahbatuh. Kedudukan I Gusti
Ngurah Jelantik sudah menetap di Blahbatuh didampingin oleh I Gusti Nyoman
Tusan yang membangun puri di Bona, sedangkan I Gusti Pring di wilayah
Blahbatuh.
Analisis Babad Arya Jelantik
Sifat-sifat babad
1.
Bersifat
sakral magis, artinya babad itu dikeramatkan dan memiliki nilai
sakralitas/kesaktian (berbau kutukan) dan magis/kesaktian yang dipercaya
masyarakat.
·
Sifat
ini ditemukan pada cerita saat I Gusti Gde Pasekan mendengar sabda yang keluar
dari keris yang dibekali oleh ayahnya yang membantunya dalam mengalahkan Ki
Pungakan Gendis
2.
Legendaris,
artinya babad itu bahan ceritanya diangkat dari legenda yang beredar dalam
masyarakat daerah tersebut.
Sifat ini ditemukan pada cerita:
·
Saat
gajah tunggangan I Gusti Ngurah Jelantik memakan tanaman penduduk berupa kacang
tanah di daerah Beng, yang kemudian daerah tersebut dinamakan Kacang Bedol.
·
Gajah
tunggangan I Gusti Ngurah Jelantik digembalakan di daerah bagian barat laut
daerah Tojan, itulah sebabnya bernama daerah Angon Liman, lama-kelamaan dikenal
dengan nama Bangun Liman.
·
Di
bagian timur daerah pengembalaan, ada semak belukar tempat beliau I Gusti
Anglurah Panji berburu, dinamakan desa Buruwan sampai sekarang
3.
Mitologis,
artinya isi babad mengandung salah satu mitos yang beredar di masyarakat
setempat dan diyakini oleh masyarakat tersebut.
·
Dalam
Babad Arya Jelantik tidak terdapat mitos yang beredar di masyarakat setempat.
4.
Religo
magis, artinya babad memiliki nilai tentang ketuhanan dan magis/kesaktian.
·
Dalam
Babad Arya Jelantik tidak memiliki nilai tentang ketuhanan.
5.
Istana
sentris, artinya babad hanya beredar/berpusat dikalangan istana/kraton saja.
·
Cerita
babad Arya Jelantik berlatarkan Kerajaan Gelgel
6.
Rajakultus,
artinya isi babad menceritakan tentang seorang raja tertentu yang
diagung-agungkan bagai dewa.
·
Babad
Arya Jelantik menyebutkan raja-raja dari Kerajaan Gelgel, yaitu Dalem
Waturenggong, Dalem Bekung, dan Dalem Sagening. Tetapi cerita babad ini
berpusat pada Panglima Perang Kerajaan Gelgel bernama I Gusti Ngurah Jelantik.
7.
Geniologis,
artinya babad mengandung silsilah dari raja-raja tertentu untuk mengingatkan
keturunannya akan leluhurnya
·
Babad
Arya Jelantik mengandung silsilah dari keluarga I Gusti Ngurah Jelantik. Dimana
beliau merupakan salah satu keturunan dari Sri Nararya Kapakisan atau I
Gusti Nyuh Aya.
8.
Bersifat
pragmentaris, artinya babad ini hanyalah salah satu bagian
dari suatu cerita/kisah babad yang ada.
·
Babad
Arya Jelantik merupakan salah satu bagian dari cerita Babad Blahbatuh
9.
Bersifat pragmatis, berarti sesuai
dengan tujuan dari pembuatan babad itu.
·
Babad
ini sesuai dengan tujuan yaitu memberitahukan asal muasal keturunan Arya
Jelantik.
10.
Bersifat lokal, berarti babad ini hanya
beredar di suatu daerah tertentu saja.
·
Babad
ini keberadaannya dipercayai disekitar wilayah Bali, yaitu Blahbatuh, Gianyar,
dan Buleleng.
11.
Bersifat analogis simbolis, berarti
babad ini dalam isinya menganalogikan sesuatu, maksud penulis disembunyikan.
·
Dalam
Babad ini tidak ditemukan penganologian sesuatu
12.
Bersifat anonim, berarti tanpa
mencantumkan nama pengarang.
·
Babad
Arya Jelantik tidak mencantumkan nama pengarang dan dapat disebut bersifat
anonim
Komentar
Posting Komentar